Archive for the 'hidup' Category

Pahlawan Atau Bangsawan Enakan Mana?

2010/07/12

Dalam seminggu ini ada dua kejadian yang bisa dibilang menggambarkan betapa sebuah gelar masih dianggap sebagai sesuatu hal yang penting bagi sebagian besar orang Indonesia. Pertama, wacana pemberian gelar pahlawan kepada almarhum KH. Idham Chalid, yang diusulkan oleh partai politik tertentu, atas jasa beliau tentunya. Beberapa waktu yang lampau, ketika mantan presiden Abdurahman Wahid meninggal dunia, wacana pemberian gelah pahlawan kepada Wahid (Gus Dur) berhembus sangat kencang, terlebih embel-embel gelar bapak Pluralisme yang disematkan kepada beliau, oleh Presiden Yudhoyono, ketika beliau memimpin prosesi pemakaman Gus Dur. Entah bagaimana kelanjutannya pemberian gelar ini.

Mungkin dibandingkan negara lainnya di Dunia, Indonesia saya rasa sangat “produktif”, bayangkan dalam hitungan yang masih terbilang muda, 65 tahun merdeka, Indonesia sudah memiliki pahlawan “resmi” 184 pahlawan, yang dibagi atas beberapa kategori; pahlawan nasional, pahlawan perintis kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekaan, pahlawan pembela kemerdekaan dan pahlawan proklamator. Belum lagi gelar pahlawan partikelir seperti pahlawan reformasi dan pahlawan ampera, tanpa mengecilkan peristiwa yang merengut nyawa mereka yang tewas dalam peristiwa demonstrasi reformasi dan tritura dahulu…

Melihat mereka yang ditasbihkan sebagai pahlawan ini, ada beberapa diantaranya yang saya lihat rada kontroversial, kasus yang paling jelas terlihat adalah pengangkatan mantan ibu negara kedua, yang tidak lama setelah wafatnya, beliau langsung dianugerahi gelar pahlawan nasional, sehari semenjak wafatnya, dengan segala macam argumen yang berusaha menguatkan keputusan pengangkatannya. Yang membuat kontroversial adalah sangat cepatnya proses penganugerahan gelar kepahlawanan yang diberikan kepadanya, dan disaat suaminya masih sangat berkuasa, (ingat bagaimana kita disuguhi tayangan seminggu penuh tentang beliau disetiap stasiun televisi swasta, seminggu penuh! tanpa jeda dan tanpa selingan berita/acara lainnya!, betapa berkuasanya sang suami).

Dan tanpa pemberitahuan dahulu tentang rencana peanugerahan gelar ini ke publik, sebagaimana layaknya, yang memakan waktu cukup lama dan melewati rangkaian proses yang cukup panjang. Bandingkan dengan Natsir dan Bung Tomo, yang memerlukan proses yang terbilang lama (Bung Tomo memakan waktu hampir 25 tahun, Natsir 17 tahun), yang diakibatkan alerginya pemerintah kepada dua tokoh ini, karena kerap mengkritik kebijaksanaan pemerintah saat itu. Hal ini terjadi karena hak pengangkatan adalah hak prerogratif Presiden.

Pemberian gelar juga sarat dengan unsur propaganda, seperti dua orang kopral KKO yang tertangkap dan dieksekusi di Singapura, ketika kita mengalami masa konfrontasi dengan Malaysia, ataupun sepuluh pahlawan revolusi ketika pecah peristiwa satu oktober 1965. Nah untuk hal yang satu ini sebenarnya lumrah dilakukan, di RRC misalnya, RRC memiliki beberapa orang pahlawan atau mungkin lebih tepatnya panutan, salah satunya adalah Lei Feng. Lei Feng seorang anak yatim piatu, yang “dipelihara” oleh Partai Komunis Cina. Lei kemudian bergabung dalam Pasukan Pembebasan Rakyat, yang kemudian menjadi salah satu pemimpin kelompok, masuk kedalam kepengurusan Partai, dan penganut setia ajara Mao Tse Tung.

Lei sendiri dikenal sebagai pribadi yang suka menolong orang lain, mengajak rakyat untuk patuh terhadap ajaran Partai, termasuk berserah diri kepada Mao. Lei sendiri akhirnya tewas tertimpa tiang listrik, yang tertabrak sebuah truk, ketika ia sedang mengatur posisi parkir truk tersebut, tetapi lewat propaganda, kematian sang pahlawan disebutkan sebagai akibat tersengat listrik ketika membangun jaringan listrik di pedalaman. Pengangkatan Lei sendiri sebagai pahlawan adalah bagian dari propaganda PKC untuk mengajak rakyatnya berkelakuan seperti halnya Lei, yang patuh, taat dan berserah diri kepada Mao dan Partai. Catatan harian Lei yang penuh pengabdian dan kepatuhannya kepada Partai menjadi obyek yang ekploitir secara habis-habisan oleh Partai Komunis Cina. Serta merta wajah Lei terpampang dalam berbagai poster propaganda mereka.

Sebenarnya hal ini tidak berbeda jauh dengan kita, kembali kepada pahlawan revolusi di negeri ini, yang dieksploitasi sebesar-besarnya oleh rezim yang berkuasa setelah rezim dahulu tumbang, dalam rangka penghancuran paham Komunis, dan alat legitimasi kekuasaan sang penguasa baru, yang turut mempermudah pendongkelan penguasa lama. Dan ini berlangsung dalam rentang yang lama, dengan dibangunnya monumen peringatan di daerah Halim sana dan penayangan film propaganda setiap tanggal 30 september dahulu, serentak diseluruh stasiun TV, dan baru berakhir pada tahun 1998!

Sedikit menyimpang dari pemberian gelar pahlawan, saya jadi teringat bahwa dulu sebelum kakek saya meninggal, beliau mewanti-wanti kami, bahwa ia tidak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Alasannya rada masuk akal, TMP Kalibata dapat “dihuni” siapa saja, asal memiliki bintang tertentu dari negara, dan melihat royalnya negara memberikan bintang penghargaan kepada “orang yang dianggap berjasa” bagi “negara”. Tanpa berusaha menuduh, tetapi memang beberapa orang yang mendapatkan tanda jasa tanpa alasan yang kuat.

Ada juga pemberian gelar pahlawan atas dasar “pembagian jatah” daerah, dan mengingat proses pengajuan seseorang berhak atau tidak mendapat gelar pahlawan biasanya berawal dari daerah asal sang pahlawan, jadi rasa-rasanya wajar kalau perasaan ini muncul. Hal ini bisa kita lihat setiap tahun, tepatnya setiap tanggal 10 november, disaat pemerintah membagi-bagikan bintang tanda jasa dan gelar kepahlawanan. Saya tidak mengerti sejak kapankah tradisi ini berlangsung, seperti suatu keharusan saja mencetak pahlawan baru, layaknya sinterklas. Padahal saya rasa seorang pahlawan sejati tidak akan meminta dirinya diberi gelar atas pengabdiannya.

Ironis bukan? Karena pada akhirnya yang merasakan dampak gelar tersebut hanya keluarganya saja. Dan jangan salah, memiliki anggota keluarga yang mendapatkan gelar pahlawan sebenarnya tidaklah mengenakan, karena ada tanggung jawab mempertahankan nama baik sang pahlawan, walaupun ini balik lagi tentunya ke individunya masing-masing…

Ah jadi ngelantur sana-sini…

Nah untuk hal yang kedua, pemberian gelar ternyata masih sesuatu hal yang sangat didambakan oleh sebagian orang, walaupun pasti ketika ditanyakan kepada orang yang ketiban gelar mereka pasti akan mengelak sambil tersenyum manis menjawabnya. Karena boleh jadi memang mereka yang ketiban rezeki, karena keuntungan lebih dirasakan oleh sang pemberi gelar.

Belum berapa lama, paling tahun lalu, kita melihat seorang selebritis muda, walaupun dia pernah menjadi bintang utama suatu sinetron yang mengambil cerita dari “kisah hidupnya”, tetap saja status selebritis (karbitan) lebih cocok untuknya, mendapatkan gelar dari sebuah keraton di Jawa. Mau tahu apa alasan pemilihannya? simpati keraton atas nasib “malang” yang menimpanya, dalam kasus drama perceraiannya dengan seorang anggota kesultanan di Malaysia. Jelas pemberian gelar ini menguntungkan keraton dari segi publisitas, walaupun buat saya lebih banyak merugikannya dengan rusaknya prestige  sang keraton, karena pada dasarnya pemberian gelar kehormatan, terlebih bagi orang diluar lingkaran keraton, seharusnya tidak semudah itu, sehingga sering membuat bangga orang yang mendapatkan gelar kebangsawanan dari suatu keraton. dan ternyata keraton yang satu ini sepertinya memang royal dalam membagi-bagi gelar kebangsawanannya, terakhir mereka memberika gelar kepada satu lagi selebritis/penyanyi kontroversial, yang terkenal dengan gayanya yang seronok. Nah kali ini saya tidak menemukan jawaban mengapa keraton memberikan gelar kebangsawanan kepadanya. Semakin yakin saya kalau ini hanya sebagai bagian dari publisitas keraton, yang mungkin merasa eksistensi perlu didorong dengan hal-hal kontroversial? mungkin…

Tetapi kontroversi pemberian gelar bukan monopoli keraton di Jawa sana saja, di Inggris Raya pun hal ini pernah terjadi, dan dibandingkan Manohara (ooops kesebut deh sih selebritis karbitan itu…), penerimanya jauh lebih legendaris, walaupun kadar kontroversinya tetap sama, yaitu pemberian gelar anggota lingkaran kerajaan Inggris, Most Excellent Order of the British Empire (MBE) kepada grup musik The Beatles.

Konon atas dorongan Putri Margaret, adik dari Ratu Elizabeth II yang konon seorang fans dari The Beatles, dan serta dorongan dari Perdana Menteri Inggris saat itu, Harold Wilson, yang didesak oleh publik dan media saat itu, salah satunya majalah “Melody Maker”, untuk memberikan gelar kebangsawanan bagi keempat anak muda Liverpool itu. MBE sendiri sebenarnya tingkat terendah dari “kepangkatan” kerajaan Inggris Raya, mungkin setingkat abdi dalem kalau di kesultanan Yogyakarta Hadiningrat.

Walaupun gelar terendah dalam tingkatan kebangsawanan, tak pelak penetapan The Beatles sebagai penerima gelar MBE ini mengundang kemarahan para penerima gelar yang sama, yang tidak merasa mereka pantas menerimanya, dibandingkan mereka yang berjasa secara kasat mata bagi kerajaan Inggris Raya, para pahlawan perang, mantan perdana menteri dan sebagainya, walaupun rasanya lebih mengenaskan bagi mereka yang berbagi gelar dengan Manohara, Dorce, Syahrini dan Julia Perez di Indonesia…Dan para penerima ini pun mngembalikan medali yang mereka dapatkan, kembali ke kerajaan Inggris.

Oh ya ada sedikit cerita, John Lennon, untuk memperotes keterlibatan Inggris Raya dalam kasus Nigeria-Biafra dan dukungan Inggris kepada Amerika di perang Vietnam, mengembalikan medalinya kepada Ratu Inggris, sama seperti para pemerotesnya dahulu…

Tetapi yah mungkin buat sebagian orang gelar kebangsawanan memang menawan rasanya untuk meningkatkan gengsi dan derajat mereka, sepertinya…seperti “pakar telematika” yang suka memakai gelar kebangsawanannya, KRMT, bersama gelar lainnya di kartu namanya dan di cara penulisan namanya dalam berita, yang sering kali dipelesetkan menjadi KERMIT oleh para “pecintanya” yang rajin memberi komentar atas segala tindak tanduknya sang pakar di media maya…nah yang ini kayaknya harus dibahas khusus sepertinya…hahahaha

Oh ya foto-foto dicomot dari beberapa situs, melalui fasilitas Google, hak cipta pada masing-masing pemilik foto…

VG

2010/02/28

Kemarin saya bangun dikejutkan oleh telepon dari teman dekat saya yang mengabarkan bahwa salah seorang teman kami meninggal dunia. Yang membuat saya terkejut karena setahu saya teman saya ini salah satu orang yang paling rajin berolah raga, semenjak dia SMP, paling tidak bermain bola basket, dan ini terbukti dari cara dia meninggal, sehabis bermain bulu tangkis, walaupun hanya baru satu set…

Terakhir saya bertemu dia di awal bulan ini, ketika kami menghadiri reuni SMA kami di pujasera di sebuah mal di bilangan Senayan. Dia terlihat sehat, walaupun lebih pendiam daripada biasanya, padahal seingat saya dia salah satu anak yang ramai, seingga dia bisa dibilang pemimpinnya anak-anak Karet, anak-anak sekolah kami yang tinggal di bilangan Karet Setiabudi, karena kesupelannya itu. Sayangnya saya tidak sempat berbincang-bincang lama denganya, karena banyaknya teman yang hadir dan waktu hadir saya yang singkat di reuni itu, tapi saya melihat seperti ada sesuatu yang dia pikirkan yang membuatnya terlihat lebih pendiam dari biasanya.

Dan berita itu mengagetkan kami semua, terutama kami yang tersambung dalam blackberry group sekolah kami. Terlebih saya, karena baru kemarinnya saya memperhatikan foto profilnya di blackberry, yang baru ia ganti dengan foto kedua orang anaknya, kaget sungguh-sungguh kaget saya mendengar berita ini. Setelah sibuk mencari konfirmasi tentang benar tidaknya berita ini, akhirnya ada satu teman kami, yang rupanya sudah sampai ke rumah duka, tempat teman saya itu disemayamkan, dan mengkonfirmasikannya dengan mengirim foto jenazah teman saya ini, ke dalam blackberry group kami.

Semoga keluarga yang ditinggalkannya kuat, tabah dan ikhlas menghadapi cobaan ini, khususnya kedua orang anak yang ditinggalkannya…

Nah perihal foto jenazah ini yang sedikit akan saya bahas di sini. Kebetulan saya suka memotret, hanya sebagai hobi, bukan profesional, hanya tukang jepret, dengan minat ke arah jurnalisme foto. Tetapi saya berusaha tidak ingin memfoto suasana orang meninggal, terutama kerabat. Walaupun kalau mau jujur, banyak sekali momen foto yang pastinya menarik untuk diambil. Dan godaan ini selalu muncul setiap saya melayat kerabat yang berpulang.

Mau tahu alasannya, karena saya tidak ingin jika saya meninggal nanti ada orang yang mengambil foto jenazah dan foto keluarga dan kerabat yang melayat di sana nanti. Buat saya, dari pengalaman yang sudah-sudah, foto-foto yang mungkin dimaksudkan untuk menjadi pengingat, memento kenangan terakhir terhadap orang yang terkasih, malah membuat kami yang ditinggalkannya teringat akan masa sedih itu. Terus terang saya berhasil melenyapkan foto-foto pemakaman ayah saya dahulu, dan saya tidak menyesali perbuatan saya ini.

Saya lebih memilih mengingat masa-masa indah yang saya alami bersama anggota keluarga/kerabat yang telah mendahului saya itu, ketimbang foto yang berisi kami semua bersedih, meratapi mereka yang meninggalkan kami. Dan rasanya memang mengingat teman saya semasa hidup, segala kejahilan & kekonyolannya terasa lebih menyenangkan, daripada melihat foto jenazahnya yang terbujur kaku di dalam peti mati. Saya merasa lebih baik merayakan kehidupan seseorang daripada merayakan kepedihan ditinggalkan seseorang, bukankah begitu?

Jadi tolong jangan mengabadikan suasana duka itu nanti yah, tetapi terima kasih sebelumnya atas itikad baiknya.

Tetapi memang ada ketertarikan saya dengan kematian, jenazah dan anatomi semenjak saya SD dulu, nah ini akan saya bahas di blog saya yang satu lagi, karena masuk dalam kategori hal-hal yang menarik saya…silahkan mengintip kalau tertarik hehehe...Oh ya, hak cipta foto-foto milik getty images, dipakai tanpa minta izin…

Taksi Oh Taksi

2009/04/23

Barusan saja,  istri saya dalam perjalanan pulangnya menelepon saya dari taksi, taksi Gamya tepatnya, di tengah-tengah pembicaraan kami, sayup-sayaup terdengar gerundelan dari arah depan, si supir rupanya. Dan terdengarlah pembicaraan antara istri saya dan si supir, yang bernama Mohammad Yassin…catat deh namanya…yang tiba-tiba tidak mau jadi mengantar istri saya, ketujuannya semula, dengan alasan yang tidak masuk akal, mau balik ke arah pool, sehingga istri saya, yang sedang pincang karena keseleo itu di turunkan malam-malam, jam delapanan tepatnya, di daerah Tendean. Dan yang sangat tidak masuk akal adalah:

  1. Ketika pertama kali istri saya menyetop si taksi Gamya, selazimnya penumpang ataupun pengemudi, harusnya pertanyaan ke mana destinasi, sudah  terucap dari awal.
  2. Kalau memang tidak searah dengan arah ke pool, seharusnya pengemudi tidak usah lah mengangkut istri saya, ya saya memakai kata mengangkut, berhubung perilaku sang pengemudi Gamya memperlakukan penggunanya layaknya sebuah barang saja…
  3. Nah kurang ajarnya, kenapa si pengemudi berengsek ini baru protes setelah beberapa menit berjalan, argo menunjukan 7500 rupiah, artinya cukup lama lah istri saya satu taksi dengan si Mohammad Yassin ini…berhubung istri saya di turunkan di daerah Tendean.
  4. Kejadian jam delapanan, setahu saya taksi “pulang kandang” maksimal jam 12 malam, dan itu juga masih ada waktu tambahan sampai jam 1 pagi, kecuali taksi Putra yang semua balik pool jam 3 pagi batasnya..

Lucunya gerundelannya si Yassin, sang pengemudi taksi muncul secara tiba-tiba, setelah dia menanya ulang destinasi istri saya, Pondok Indahnya sebelah mana? Dekat Ciputat? Nah loh…emangnya kenapa?

gamya

Karena dulu sempat mengalami kejadian kayak begini, supir yang tiba-tiba seenak jidatnya menurunkan penumpangnya di tengah jalan, maka bertanyalah istri saya. “Terus bagaimana? Saya harus turun sekarang?” karena mendapat pertanyaan ketus dari si pengemudi itu. “Terserah ibu..” lho kok aneh jelas-jelas dia sudah tiba-tiba mengerutu karena “sudah mau pulang”. Saya masih sempat mendengar istri saya berbicara, “…tapi tunggu saya dapat taksi lain yah pak…”. Langsung saya minta istri saya mencatat nomer taksinya.

Ternyata, menurut istri saya tidak ada nomer pintu taksi di bagian dalam kendaraan, baik di kaca jendela maupun di daerah gagang pintu mobil, dan istri saya hanya sempat membaca nama si pengendara, yang marah-marah karena istri saya mencatat nomer telepon pengaduan Gamya, yang anehnya malah terpampang jelas di pintu penumpang. Dan karena kita di turunkan di malam hari, dan sepertinya si supir tidak peduli lagi istri saya dapat taksi pengganti atau tidak.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, saya yang berada di rumah langsung menelpon 108, dan meanyakan nomer telepon taksi Gamya. Setelah dua kali menelpon 108 karena nomer-nomer yang di berikan selalu sibuk. Akhirnys saya googling dan mendapatkan nomer pengaduan untuk sms dan email costumer service Gamya. Setelah saya e-mail dan sms, saya coba lagi menelpon, dan akhirnya berhasil tersambung. Segeralah saya tumpahkan protes saya yang mereka catat, tapi entah bagaimana hasilnya, karena yah itu, tidak adanya nomer taksi di bagian dalam taksi.
Yang membuat saya bingung, perusahaan taksi di Jakarta sangatlah banyak jumlahnya. Dan untuk naik taksi, penumpang di masa sulit ini, dengan tarif yang nggak bisa dibilang murah ini, seharusnya semakin sengitlah pertarungan memperebutkan penumpang. Dan salah satu usaha membuat penumpang menjadi pelanggan setia, seharusnya perusahaan taksi berlomba-lomba menservice penumpangnya. Bodoh memang…dengan perilaku seperti ini wajar saja jika ada salah satu perusahaan taksi terkemuka, dengan tarif yang tinggi, tetap berjaya, walaupun saingan mereka banyak…karena mereka terkenal dengan servicenya yang baik…

Rugi sendiri bukan?

Oh ya foto diambil/pinjam dari websitenya Gamya karya Angling Nirmolo @ Natural Art Photography

Bingung: Barney apa Pawang Anak?

2008/09/05

Sering kalau saya berjalan-jalan bersama pacar saya, entah itu ke Mall, jalan-jalan ke Monas, Café-café atau manapun juga. Selalu suka ada anak kecil/bayi yang tiba-tiba menatap memperhatikan saya, (bukannya ge-er), tapi yah itu mereka entah hanya menatap, mengawasi tepatnya gerak-gerik saya, sampai senyum-senyum kearah saya. Dan pacar saya ini hanya bisa senyum-senyum pasrah doang melihat saya suka disenyumin anak kecil.

Yang lebih lucu lagi, sebenarnya saya sudah punya hubungan khusus ajaib ini dengan anak kecil semenjak saya kecil. Selalu kalau ada acara keluarga suka ada keponakan atau sepupu kecil yang tiba-tiba dating dan memeluk saya, atau paling tidak mengajak saya ngobrol, dan tidak perduli orang tua mereka ada didekat mereka atau tidak.

Waktu kuliah juga begitu, ketika saya pulang kekost-kostan saya, baru saja saya buka pintu, cucu-cucu ibu kost saya, Oma Cassiah, berlarian menyambut saya, dan salah satunya si kecil Rina (kok sama dengan nama pacar saya yah?) buru-buru melompat ke arah saya, Memegang-megang rambut saya (pada saat itu rambut saya gondrong sesikut) sambil berkata “rambutnya bagus…rambutnya kapan dipotong?” dan saya cuma bisa mesem-mesem mendengarnya, soalnya semua anggota keluarga besar saya pada protes rambut saya gondrong, sampai-sampai Opa dan Oma saya meminta saya untuk memotong rambut saya, sebagai hadiah ulang tahaun mereka, setiap mereka berulang tahun, tapi tidak saya gubris

barney1

Lucunya ketika saya kerja, setelah empat tahun ber gondrong ria, dan mulai rontok plus kepanasan, akhirnya mau memendekan rambut saya ini. Ketika saya pulang dengan rambut baru saya itu, Rika, anak pembantu kakek saya, menangis dan ngomel-ngomel protest…kenapa dipotong rambutnya?. Rupanya dia mengagumi rambut saya yang panjang, dan dia sendiri memanjangkan rambutnya, karena pingin punya rambut panjang. Haduuuh…Rika waktu itu berusia 3 tahunan. Rina kecil itu, waktu itu berusia 2 tahunan.

Tapi ini bukan berarti hanya anak perempuan yang mengajak ngobrol (dan lengket) ke saya, waktu saya menelpon ke rumah dari Gambir, meminta untuk di jemput (saya kuliah di ITB pada waktu itu), lagi penuh konsentrasi menelpon di telpon umum, karena bisingnya suara disana, tiba-tiba ada anak laki kecil yang menarik-narik ujung jaket saya, yang dekil itu, seraya tersenyum menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan saya!, padahal sumpah mampus kalian yang kalau bertemu saya pasti malas negor saya, kumal, kurus, gondrong, jeans robek-robek, pakai doc-mart, dan membawa tabung gambar. Aneh kan? Dan menurut pacar saya, saya tuh kalau lagi sendirian tampang saya galak, dengan rambut tergerai. Lah tapi kok?

Ada lagi cerita yang rada konyol, waktu sepupu saya mau menikah, ada teman keluarga, yang anaknya sudah mulai gede, kelas empatan, Nayla namanya, dating ke rumah sepupu saya itu. Saya yang sedang sibuk-sibuknya mendesain perkerjaan saya di kamar kerja sepupu saya itu, didekatinya dan ngobrol dengan saya, ngoceh tentang mainan dan boy band favoritnya. Saya yang sibukmendesain ria, akhirnya memberikan portofolio saya untuk di lihat-lihat olehnya. Dan jadinya anak itu lengket dengan saya. Dan saya kasih dia salah satu print-out alternatif mascot CBN saya dulu kedia. Beberapa bulan kemudian, dikawinan sepupu saya itu (kurang lebih lima bulanan dari terakhir ketemu) saya bertemu lagi dengan Nayla. Dan seperti biasa lengket kesaya, dan membuka dompetnya tiba-tiba, menunjukan kalau dia selalu membawa-bawa gambar saya itu, yang sudah mulai lecek, dan memberitahu saya kalau ini good luck charm-nya. Haduuuh…yang repotnya lagi, kalau dia sekeluarga kerumah, ibunya dia, dengan pandangan khawatir, melihat kearah saya, seakan saya seorang pedophile, waduuuh repot ini. Untungnya dia belakangan ini suka bercerita kalau dia sekarang ini (SMP) sudah punya pacar (dasar ABG). Jadi saya bisa lebih tenang kalau ketemu dengan orang tuanya.

Dan belum lagi cerita sepupu kecil saya, Rani yang cemburu pada pacar saya semasa kuliah, setiap bertemu diacara keluarga hahahaha…

Jadi saya suka bertanya-tanya kepada pacar saya, apa yah yang mereka lihat didiri saya, jangan-jangan saya kayak Barney, si dinosaurus ungu itu. Karena badan saya besar sekarang, dan bulat-lat…
Dan taunya, beberapa minggu yang lalu keponakan saya, si Raya, yang sekarang baru jalan 3 tahun umurnya ketka sedang bermain bersama saya, berkata…”paman Putra kayak arniii…(Barney)” dan saya akhirnya hanya bisa mengakak, mendengarkan pembenaran dari teori saya ini…

Dan saya jadi sedikit bersimpati dengan Michael Jackson…jangan-jangan nasibnya sebenarnya sama dengan saya ini…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.