Ternyata Tidak Mudah Menjadi Calon Pelanggan…

2010/03/14

Sabtu kemarin seperti kebiasaan di keluarga besar saya, makan bersama di luar. Kali ini setelah berembuk sebentar para tante dan oom saya, akhirnya mereka sepakat untuk makan di TRS Diner, di Cilandak Town Square. Saya sudah lama pergi ke Citos, sehingga sudah tidak faham dengan peta lokasi dan apa saja restoran yang ada di sana. Salah satunya yah restoran ini, TRS Diner, seingat saya mereka rada baru deh, terus terang saya tidak terlalu suka dengan Citos, saya hanya suka ke toko buku Aksara!, jadi saya menganggap TRS Diner itu baru.

Pertama-tama menemukan TRS ini saya rada bingung, mengapa ada dua tiang bendera di pintu depannya. Ternyata mereka berusaha memakai konsep dine-in ala Amerika tahun 50’an. Ini bisa dilihat dengan banyak dipakainnya elemen metal pada interiornya, begitu pula dengan frame-frame foto yang bertebaran, layaknya dine-in. Tetapi ‘ntah mengapa hampir setiap foto yang ada harus diberi penjelasan tentang siapa-siapa saja orang-orang yang ada di dalam foto itu, kalau mereka menempelkan plakat nama di luar pigura, saya rasa tidak masalah, tetapi sayangnya mereka menempelkannya di dalam pigura, sebagai insert dalam foto. Detail yang sangat mengganggu.

Mereka juga menaruh sebuah mesin juke box, serasa menjadi gang-nya Archie, nongkrong di Pop’s Tate, tapi sayangnya mesin juke box hanya sebagai gimmick biasa, tidak bisa kita mainkan, berbeda dengan dulu di Wendy’s, yang pada awal tahun 90an sempat memasang mesin Juke Box, di salah satu gerainya, dan bisa kita pilih sendiri CD mana yang ingin kita pasang/dengarkan. Begitu pula dengan meja makannya, walaupun berbentuk menyerupai meja dine-in, tetapi mereka salah memilih jenis laminate metal sebagai permukaan mejanya. Alih-alih menggunakan jenis metal brushed aluminum, itu loh aluminum berpola bulat-bulat hasil gosok sikat besi, tetapi malah memakai jenis corrugated metal. Sayang memang, terasa tanggung.

Tetapi yang lebih mengganggu lagi adalah…pelayanannya…

Walaupun pada awalnya saya sangat terkesan dengan daftar makan mereka, banyak makanan mereka yang otentik dengan makanan ala dine-in di Amerika sana, dan di menu sarapan mereka ada Egg Benedict, yang ingin sekali saya coba, karena saya tergiur melihatnya di saluran Youtube, tetapi sayang sekali pelayanannya sangat mengecewakan.

Jadi begini ceritanya, seperti yang saya ceritakan tadi, menu mereka mengacu kepada menu ala dine-in, yang terus terang tidak familiar dengan saya, bukan menu kontinental Americana layaknya restauran-restauran yang ada di Jakarta. Sehingga saya harus membaca satu persatu menu beserta keterangannya. Istri saya mungkin tidak mengalami masalah untuk soal yang satu ini, dia pernah tinggal setahun di sana. Tetapi saya? yah harus rajin membaca, untuk memahami apa saja yang mereka tawarkan. Tetapi entah karena bermaksud membantu, mas-mas pelayannya malah terasa mengganggu saya. Bagaimana tidak, sedang asyik mencerna, sang mas-mas, setelah saya pinta untuk menunggu sebentar saya sedang membaca, tetap berdiri di sebelah saya, dan tetap mengawasi saya yang sibuk membaca “cepat” menu.

Setelah secara halus saya minta untuk “nanti dulu, saya pesan minum saja dulu…” barulah dia pergi. Kemudian saya memesan makanan, setelah bertanya kepada istri saya terlebih dahulu, saya akhirnya memesan Philly Cheese Steak Wrapper bla-bla-bla, lupa saya. Baru saja si mas-mas balik badan menuju kasir untuk mengasih orderan, istri saya mengingatkan “…eh yang itu pake tortilla loh…” segera saya memanggil balik si pelayan itu untuk mengganti pesanan dengan Philly yang tanpa tortilla, tetapi mas-masnya langsung bilang tanpa berusaha, “oh itu sedang di masak…” lah bagaimana bisa, belum ada seperempat menit dia “ngobrol” ke kasir penerima order, masak jawabannya sedang di masak?

Oke saya memang salah karena mengganti orderan, tetapi dia tidak terlihat membantu untuk berusaha mengkonfirmasi ke kasir, yang baru dia tinggalkan beberapa detik sebelumnya, dan dengan hebatnya bilang oh orderan sudah/ sedang di masak. Memangnya masakan di sana instan apa? Paling tidak sang jurumasak logikanya masih bergerak menuju tempat penyimpanan daging, mau sudah dicacah atau belum, tetap saja hebat sekali rasanya dalam hitungan detik sang juru masak langsung memasak. Sejauh yang saya tau, secepatnya makanan siap saji pun dia butuh waktu untuk menyiapkan persiapan meracik makanan…

Langsung saya debat dia, yang saya masalahkan bukan karena makanan saya bisa diganti, tetapi mengapa dia punya jawaban instan yang nggak masuk akal? Kalau dia pintar sedikit, dan menjawab “yah mas, pesanan sudah masuk ke dalam komputer dan tidak bisa diubah…” mungkin saya nggak akan sedongkol itu…

Nah ketika istri saya memesan makanan, salad dengan udang, yang bisa dia pilih bagaimana udang itu dimasak, dibakar atau direbus, dan istri saya memilih untuk direbus. Kembali si mas-mas ini, yang sepertinya tidak tahu apa yang dia jual, bilang, “Mbak, itu semua sudah ada dalam masakannya…”, giliran istri saya yang mendebat, dan menunjukan ke buku menu, yang memang tertera bahwa kami, customer, berhak memilih olahan apa yang mereka ingini.

Saya sebenarnya tidak terlalu suka ngomel-ngomel, apalagi menyemprot seseorang, apalagi pelayan restoran. Dan semakin nggak enak lagi karena ibu saya “mengomeli” saya karena saya mengomeli mas-mas tadi. Jadi saya berusah kembali ke posisi manis, untuk menunjukan penyesalan saya atas perilaku saya tadi…manis ke mas-mas tadi maksudnya…

Manis normal, bukan manis menggoda tentunya…amit-amit…

Setelah makanan saya datang, setelah menunggu-nunggu rada lama, dan mengganjal laparnya perut, akhirnya makanan istri saya tiba…Dan ternyata…

Udang yang datang di grill, alias dibakar, bukan seperti permintaan istri saya yang direbus. Secara kasat mata, saya rasa anak SD pun bisa membedakan mana udang rebus mana udang bakar, baik dari warna maupun dari bentuk…lah ini banyak yang gosong-gosong… Tetapi bukan ini yang membuat saya naik pitam…Si mas-mas, yang menurut saya sok akrab itu, memanggil saya boss, ketika saya permasalahkan makanan yang tidak sesuai pesanan ini, bersikukuh bahwa ini rebusan, bukan bakaran. Saya sampai terdiam mendengar jawabannya itu, karena mengingat pesan ibu saya untuk menahan emosi saya.

Setelah sang pelayan melengos merasa berhasil menjawab pertanyaan saya, dengan jawabannya yang sangat tidak masuk akal itu, melebihi jawaban instannya dulu…Saya panggil mbak-mbak pelayan yang kebetulan melihat ke arah saya, dan saya tanya, apakah menurut dia masakan ini, rebus atau bakar?, tanpa saya mengeluarkan kalimat “Tadi saya pesan…”, langsung saja saya todong pertanyaan itu. Dan spontan dia menjawab “Bakar Pak…”

Barulah saya jelaskan bahwa yang saya pesan adalah udang dengan cara masak rebus, bukan bakar, tetapi ketika saya tanyakan tadi ke temannya dijawab bahwa udang ini dimasak rebus.

Langsung makan istri saya yang lama keluarnya, yang menurut saya pantas saja, karena proses membakar makanan untuk mencapai tahap matang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, dibandingkan rebus, itu diambil dan di bawanya ke belakang, kembali ke dapur, seingat saya tanpa meminta maaf.

Akhirnya makanan istri saya keluar lagi, kali ini sesuai dengan pesanan, tetapi dengan anehnya jumlah udang yang dari tiga potong, menjadi dua, dan bumbu bubuk tabur chilli yang seharusnya ada, menghilang tanpa jejak…dan hebatnya lagi tanpa terucap permintaan maaf atas insiden itu…hingga kami pulang…

Menyebalkan memang, dan membuat saya menyesal tidak memesan Egg Benedict, karena saya rasanya jadi malas untuk kembali ke sana…Sayang sekali…

Restoran di Jakarta memang sangat banyak, hampir tidak mungkin rasanya mati kelaparan di Jakarta. Tetapi sayang sekali hanya segelintir yang paham dengan manajemen restoran, terutama bagaimana melayani tamu.

Di beberapa restoran memang masih ada yang menganggap tamu/pelanggan adalah raja. Mereka tidak segan meminta maaf jika pesanan tidak sesuai pesanan, bahkan mengganti makan jika ternyata makanan ternyata tidak matang, atau terselip benda-benda yang seharusnya tidak pada tempatnya. Karena memang etikanya begitu, mengganti makanan, walaupun makanan telah termakan.

Bahkan D’Cost Bintaro, restoran seafood, membebaskan kami dari membayar makanan, tanpa kami duga sama sekali, karena keterlambatan mereka menyajikan makanan, dan tidak keluarnya beberapa makanan pesanan kami, setelah menunggu lebih dari satu jam. Walaupun sungguh kami mengerti juga, mengingat mereka baru buka beberapa hari yang lampau, dan melihat animo warga Bintaro yang sangat tinggi untuk makan di sana…

Faktor kenyamanan yang terganggu oleh sikap karyawan juga banyak terjadi di sini. Ada dua tipe mayoritas restoran di Jakarta, pertama sangat tanggap, sehingga terasa mengganggu pengunjung. Selalu menempel ketika kita melihat menu dan mengangkat makanan yang belum selesai di makan, karena sang customer memakan makanannya perlahan akibat sibuk berbicara dengan rekan sebelahnya (ini baru saya alami kemarin ketika makan di Immigrant, Plaza Indonesia…)

Atau tipe kedua yang pelayannya tidak terlihat sama sekali, tidak tanggap, bahkan terkadang sibuk ngerumpi dengan rekannya, layaknya pelayan warteg di pinggir jalan…

Contoh yang baik manajemen restoran yang pernah saya acungi jempol adalah restoran waralaba Kenny Rogers Roaster, di Pondok Indah Mal 2. Saya rasa apa yang mereka lakukan sangat baik. Menyapa sambil menyebutkan nama mereka, sebagai introduksi merekalah yang akan melayani meja saya. Kemudian seraya menyerahkan menu, mereka menawarkan kita untuk memesan minum terlebih dahulu, dan mempersilahkan kita untuk membolak-balikan buku menu, dan memanggil kembali mereka, setelah kita tahu makanan apa yang ingin kita makan…

Atau malah yang lebih efisien lagi seperti di Kinotaki, restoran waralaba Jepang. Ketka kita dibawa menuju meja, mereka langsung memberikan buku menu seraya mempersilahkan kita memilih makanan, dan ketika sudah siap memesan, kita dipersilahkan memijit tombol bel pemanggil yang berada di atas meja kita…efektif dan memberikan kita kesempatan memilih makanan tanpa merasa dikejar-kejar…

Dengan terus bermunculannya tempat makan baru, mungkin pola pikir manajemen restoran di Jakarta harus diubah, jika mereka tidak mau kehilangan calon pelanggan dan pelanggan tentunya…Rugi sendiri bukan?

Ps: foto-foto dipinjam tanpa izin dari webnya TRS Diner, hak cipta milik TRS Diner

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.