Posted by: cikibawawaw | 2009/05/21

Surat Terbuka Untuk Tiki

Calon adik ipar saya membeli sepatu kepada seorang desainer sepatu, yang menggunakan jasa perusahaan anda untuk mengirimkan barangnya kepada adik ipar saya, dengan memakai alamat rumah saya. Kode pengiriman 020078032463.
Menurut keterangan si pengirim barang, barang sudah dikirimkan sejak hari senin/selasa. Tetapi barang sampai hari ini belum diterima kami. Setelah di telepon ke perusahaan anda. Saya mendapat kabar bahwa pengantar anda sudah dua kali ke rumah saya, dan tidak ada orang di rumah. Walaupun terasa aneh, mengingat saya berkerja di rumah dan banyak asisten rumah tangga di rumah saya, dan adik saya yang juga berkerja di rumah, tidak mendengar adanya orang mengetok pintu, memencet bel rumah, ataupun berteriak memanggil orang di dalam rumah.
Akhirnya diberitahulah kami, bahwa kami bisa mengambilnya hari ini jam 19:30 di cabang anda di daerah rawamangun, sedangkan rumah kami di daerah pondok indah. Kenapa 19:30? Karena orang yang bertugas baru masuk jam tersebut, walaupun terasa janggal, tetapi karena mengingat kesalaha kami, walaupun terasa aneh karena kami harus menunggu satu orang itu, yang bernama Yohanes Sumardi, karena logikanya masak untuk mengambil satu barang harus menunggu seseorang yang spesifik?

Banner Tiki yang bertolak belakang dengan kualitasnya

Saya mengirim pengemudi kami untuk mengambil barang, yang ternyata disepakati barang diambil jam 22:00 tadi. Setelah sampai di sana, teryata barulah diberitahukan bahwasanya barang kiriman dalam keadaan rusak terlindas ban berjalan [?] pada hari selasa, di tempat anda!, jadi petugas anda telah mengaku kepada pengemudi saya bahwa telah berbohong mengaku-aku bahwa dia telah dua kali ke rumah kami.
Saya sangat marah dan kecewa bukan hanya karena kerusakan barang yang kami pesankan, tetapi karena perusahaan anda, dalam hal ini petugas anda, telah berbohong kepada kami, dan yang menjadi masalah adalah barang tersebut akan dipakai oleh calon adik ipar saya itu di pernikahannya besok lusa di pulau Bangka. Jika petugas anda jujur dari mula, sejak selasa…bayangkan selasa, hari ini hari kamis!, mungkin kami bisa mengantisipasi kejadian ini, dengan membeli sepatu baru.
Anda mau mengganti 1000 kali-pun sudah tidak cukup waktu bagi kami untuk mencari penggantinya. Rasanya akan percuma jika saya menelpon ke 021-4704979, karena saya sekeluarga besok subuh sudah akan berangkat ke Pulau Bangka.
Saya sangat kecewa karena saya belakangan ini sering sekali memakai jasa perusahaan anda.
Saya akan menyebarkan surat ini ke koran-koran terkemuka, milis-milis terkemuka, serta akan saya postingkan dalam beberapa blog saya, supaya jangan ada lagi calon pengguna yang dikecewakan oleh perusahaan anda. Mengingat ramainya persaingan jasa pengiriman barang di Indonesia, kelakuan salah satu petugas anda ini, yang tidak bertanggung jawab dan membohongi pelanggan, merugikan anda, karena saya terus terang malas memakai jasa anda di kemudian hari.
Saya sangat kecewa.
Saya tunggu jawaban anda!

Posted by: cikibawawaw | 2009/04/24

Wah Hebat Di Tanggapi…

Tanpa saya duga-duga, karena saya rada skeptis dengan masalah pengaduan di Jakarta, jadi ketika saya mengecek e-mail pribadi saya, saya rada terkesima dengan adanya balasan e-mail dari Gamya, perihal pengaduan saya kemarin, menyangkut perilaku salah satu pengemudinya yang bernama Muhamad Yasin, bukan Muhammad Yassin, seperti yang saya tulis kemarin.

Saya salut sekali dengan kinerja bagian pelayanan pelanggan Gamya, yang menurut saya cukup tanggap menanggapi keluhan saya kemarin. Walaupun vonis yang dijatuhkan kepada pengemudi sangat keras, yang tidak pernah terpikirkan oleh saya, berakhir dengan pemecatan. Tetapi dalam bidang pelayanan jasa, mungkin hal ini yang terbaik untuk dilakukan Gamya, dalam menjaga reputasinya sehingga tidak cacat di mata pelanggan/penggunanya…

Ngomong-ngomong soal skeptis saya soal pengaduan, banyak perusahaan di Indonesia memang tidak biasa menanggapi pengaduan secara baik dan benar. Mereka terkadang hanya mencatat tanpa memberikan respon balik apapun. Saya pernah bermasalah dengan isi ulang pulsa Esia, saat itu saya mengisi ulang pulsa, ternyata pulsa saya tidak terisi, setelah bingung mencari kemana saya mengadu, dan sekali lagi, thanks to google, akhirnya saya berhasil mendapatkan e-mail mereka, dan setelah menunggu beberapa hari, akhirnya saya mendapat jawaban dari mereka.

Lalu apa masalahnya? Ternyata setelah beberapa bulan kemudian, masalah yang sama terulang kembali, pada masa awal operasionalnya memang sinyal Esia tidak begitu baik, jadi waktu pengisian sering mendapat gangguan, alias si kode pulsa tidak terkirim, tetapi rupanya kali ini saya tidak beruntung, dari tahun 2007 hingga 2009 ini e-mail saya tidak berbalas… Belum lagi masalah penggunaan mesin perekam, sebagai alat penerima pengaduan yang sering digunakan perusahaan-perusahaan jasa di sini, itu loh costumer service yang ala robot, “Tekan 1 untuk A, tekan 2 untuk B…dan seterusnya”, yang sering berujung mohon tunggu dan kemudian disertai kalimat “…maaf seluruh costumer service representative kami sedang sibuk”…argh jebakan pulsa sekali rasanya…

Memang susah ternyata menjadi costumer di Indonesia, sangat berbeda dengan pelayanan perusahaan di luar sana yang tanggap menghadapi keluhan. Ini juga bedasarkan pengalaman saya dulu.

Jadi wah saya sangat terkesan atas tanggapan Gamya…terima kasih atas tanggapanya…

Posted by: cikibawawaw | 2009/04/23

Taksi Oh Taksi

Barusan saja,  istri saya dalam perjalanan pulangnya menelepon saya dari taksi, taksi Gamya tepatnya, di tengah-tengah pembicaraan kami, sayup-sayaup terdengar gerundelan dari arah depan, si supir rupanya. Dan terdengarlah pembicaraan antara istri saya dan si supir, yang bernama Mohammad Yassin…catat deh namanya…yang tiba-tiba tidak mau jadi mengantar istri saya, ketujuannya semula, dengan alasan yang tidak masuk akal, mau balik ke arah pool, sehingga istri saya, yang sedang pincang karena keseleo itu di turunkan malam-malam, jam delapanan tepatnya, di daerah Tendean. Dan yang sangat tidak masuk akal adalah:

  1. Ketika pertama kali istri saya menyetop si taksi Gamya, selazimnya penumpang ataupun pengemudi, harusnya pertanyaan ke mana destinasi, sudah  terucap dari awal.
  2. Kalau memang tidak searah dengan arah ke pool, seharusnya pengemudi tidak usah lah mengangkut istri saya, ya saya memakai kata mengangkut, berhubung perilaku sang pengemudi Gamya memperlakukan penggunanya layaknya sebuah barang saja…
  3. Nah kurang ajarnya, kenapa si pengemudi berengsek ini baru protes setelah beberapa menit berjalan, argo menunjukan 7500 rupiah, artinya cukup lama lah istri saya satu taksi dengan si Mohammad Yassin ini…berhubung istri saya di turunkan di daerah Tendean.
  4. Kejadian jam delapanan, setahu saya taksi “pulang kandang” maksimal jam 12 malam, dan itu juga masih ada waktu tambahan sampai jam 1 pagi, kecuali taksi Putra yang semua balik pool jam 3 pagi batasnya..

Lucunya gerundelannya si Yassin, sang pengemudi taksi muncul secara tiba-tiba, setelah dia menanya ulang destinasi istri saya, Pondok Indahnya sebelah mana? Dekat Ciputat? Nah loh…emangnya kenapa?

gamya

Karena dulu sempat mengalami kejadian kayak begini, supir yang tiba-tiba seenak jidatnya menurunkan penumpangnya di tengah jalan, maka bertanyalah istri saya. “Terus bagaimana? Saya harus turun sekarang?” karena mendapat pertanyaan ketus dari si pengemudi itu. “Terserah ibu..” lho kok aneh jelas-jelas dia sudah tiba-tiba mengerutu karena “sudah mau pulang”. Saya masih sempat mendengar istri saya berbicara, “…tapi tunggu saya dapat taksi lain yah pak…”. Langsung saya minta istri saya mencatat nomer taksinya.

Ternyata, menurut istri saya tidak ada nomer pintu taksi di bagian dalam kendaraan, baik di kaca jendela maupun di daerah gagang pintu mobil, dan istri saya hanya sempat membaca nama si pengendara, yang marah-marah karena istri saya mencatat nomer telepon pengaduan Gamya, yang anehnya malah terpampang jelas di pintu penumpang. Dan karena kita di turunkan di malam hari, dan sepertinya si supir tidak peduli lagi istri saya dapat taksi pengganti atau tidak.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, saya yang berada di rumah langsung menelpon 108, dan meanyakan nomer telepon taksi Gamya. Setelah dua kali menelpon 108 karena nomer-nomer yang di berikan selalu sibuk. Akhirnys saya googling dan mendapatkan nomer pengaduan untuk sms dan email costumer service Gamya. Setelah saya e-mail dan sms, saya coba lagi menelpon, dan akhirnya berhasil tersambung. Segeralah saya tumpahkan protes saya yang mereka catat, tapi entah bagaimana hasilnya, karena yah itu, tidak adanya nomer taksi di bagian dalam taksi.
Yang membuat saya bingung, perusahaan taksi di Jakarta sangatlah banyak jumlahnya. Dan untuk naik taksi, penumpang di masa sulit ini, dengan tarif yang nggak bisa dibilang murah ini, seharusnya semakin sengitlah pertarungan memperebutkan penumpang. Dan salah satu usaha membuat penumpang menjadi pelanggan setia, seharusnya perusahaan taksi berlomba-lomba menservice penumpangnya. Bodoh memang…dengan perilaku seperti ini wajar saja jika ada salah satu perusahaan taksi terkemuka, dengan tarif yang tinggi, tetap berjaya, walaupun saingan mereka banyak…karena mereka terkenal dengan servicenya yang baik…

Rugi sendiri bukan?

Oh ya foto diambil/pinjam dari websitenya Gamya karya Angling Nirmolo @ Natural Art Photography

Posted by: cikibawawaw | 2008/09/05

Bingung: Barney apa Pawang Anak?

Sering kalau saya berjalan-jalan bersama pacar saya, entah itu ke Mall, jalan-jalan ke Monas, Café-café atau manapun juga. Selalu suka ada anak kecil/bayi yang tiba-tiba menatap memperhatikan saya, (bukannya ge-er), tapi yah itu mereka entah hanya menatap, mengawasi tepatnya gerak-gerik saya, sampai senyum-senyum kearah saya. Dan pacar saya ini hanya bisa senyum-senyum pasrah doang melihat saya suka disenyumin anak kecil.

Yang lebih lucu lagi, sebenarnya saya sudah punya hubungan khusus ajaib ini dengan anak kecil semenjak saya kecil. Selalu kalau ada acara keluarga suka ada keponakan atau sepupu kecil yang tiba-tiba dating dan memeluk saya, atau paling tidak mengajak saya ngobrol, dan tidak perduli orang tua mereka ada didekat mereka atau tidak.

Waktu kuliah juga begitu, ketika saya pulang kekost-kostan saya, baru saja saya buka pintu, cucu-cucu ibu kost saya, Oma Cassiah, berlarian menyambut saya, dan salah satunya si kecil Rina (kok sama dengan nama pacar saya yah?) buru-buru melompat ke arah saya, Memegang-megang rambut saya (pada saat itu rambut saya gondrong sesikut) sambil berkata “rambutnya bagus…rambutnya kapan dipotong?” dan saya cuma bisa mesem-mesem mendengarnya, soalnya semua anggota keluarga besar saya pada protes rambut saya gondrong, sampai-sampai Opa dan Oma saya meminta saya untuk memotong rambut saya, sebagai hadiah ulang tahaun mereka, setiap mereka berulang tahun, tapi tidak saya gubris

barney1

Lucunya ketika saya kerja, setelah empat tahun ber gondrong ria, dan mulai rontok plus kepanasan, akhirnya mau memendekan rambut saya ini. Ketika saya pulang dengan rambut baru saya itu, Rika, anak pembantu kakek saya, menangis dan ngomel-ngomel protest…kenapa dipotong rambutnya?. Rupanya dia mengagumi rambut saya yang panjang, dan dia sendiri memanjangkan rambutnya, karena pingin punya rambut panjang. Haduuuh…Rika waktu itu berusia 3 tahunan. Rina kecil itu, waktu itu berusia 2 tahunan.

Tapi ini bukan berarti hanya anak perempuan yang mengajak ngobrol (dan lengket) ke saya, waktu saya menelpon ke rumah dari Gambir, meminta untuk di jemput (saya kuliah di ITB pada waktu itu), lagi penuh konsentrasi menelpon di telpon umum, karena bisingnya suara disana, tiba-tiba ada anak laki kecil yang menarik-narik ujung jaket saya, yang dekil itu, seraya tersenyum menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan saya!, padahal sumpah mampus kalian yang kalau bertemu saya pasti malas negor saya, kumal, kurus, gondrong, jeans robek-robek, pakai doc-mart, dan membawa tabung gambar. Aneh kan? Dan menurut pacar saya, saya tuh kalau lagi sendirian tampang saya galak, dengan rambut tergerai. Lah tapi kok?

Ada lagi cerita yang rada konyol, waktu sepupu saya mau menikah, ada teman keluarga, yang anaknya sudah mulai gede, kelas empatan, Nayla namanya, dating ke rumah sepupu saya itu. Saya yang sedang sibuk-sibuknya mendesain perkerjaan saya di kamar kerja sepupu saya itu, didekatinya dan ngobrol dengan saya, ngoceh tentang mainan dan boy band favoritnya. Saya yang sibukmendesain ria, akhirnya memberikan portofolio saya untuk di lihat-lihat olehnya. Dan jadinya anak itu lengket dengan saya. Dan saya kasih dia salah satu print-out alternatif mascot CBN saya dulu kedia. Beberapa bulan kemudian, dikawinan sepupu saya itu (kurang lebih lima bulanan dari terakhir ketemu) saya bertemu lagi dengan Nayla. Dan seperti biasa lengket kesaya, dan membuka dompetnya tiba-tiba, menunjukan kalau dia selalu membawa-bawa gambar saya itu, yang sudah mulai lecek, dan memberitahu saya kalau ini good luck charm-nya. Haduuuh…yang repotnya lagi, kalau dia sekeluarga kerumah, ibunya dia, dengan pandangan khawatir, melihat kearah saya, seakan saya seorang pedophile, waduuuh repot ini. Untungnya dia belakangan ini suka bercerita kalau dia sekarang ini (SMP) sudah punya pacar (dasar ABG). Jadi saya bisa lebih tenang kalau ketemu dengan orang tuanya.

Dan belum lagi cerita sepupu kecil saya, Rani yang cemburu pada pacar saya semasa kuliah, setiap bertemu diacara keluarga hahahaha…

Jadi saya suka bertanya-tanya kepada pacar saya, apa yah yang mereka lihat didiri saya, jangan-jangan saya kayak Barney, si dinosaurus ungu itu. Karena badan saya besar sekarang, dan bulat-lat…
Dan taunya, beberapa minggu yang lalu keponakan saya, si Raya, yang sekarang baru jalan 3 tahun umurnya ketka sedang bermain bersama saya, berkata…”paman Putra kayak arniii…(Barney)” dan saya akhirnya hanya bisa mengakak, mendengarkan pembenaran dari teori saya ini…

Dan saya jadi sedikit bersimpati dengan Michael Jackson…jangan-jangan nasibnya sebenarnya sama dengan saya ini…

Categories